Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Tampilkan postingan dengan label ADE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADE. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2016

[Review] Oregairu Zoku

Oregairu Zoku


Hello! kembali di review anime, kali ini saya mau review salah satu anime yang baru saja selesai season 2 nya dengan judul Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteiru. Zoku.
Melanjutkan kisah Hachiman dengan anggota Services Club, Yui dan Yukino, akankah season 2 ini dapat menarik perhatian dan membuat perasaan anda bagai naik roller coaster?

Drama everywhere

Namanya juga
sinetron anime, tentu tidak luput dari drama. Selamat datang di oregairu dimana emosi kalian akan dimainkan seperti layaknya roller coaster, kadang asyik, kadang nge-feels, kadang bikin kesel sendiri. Terkadang drama nya pun tidak bisa kita prediksi seperti yang tidak diduga Hayato mengembalikan nama baik Hachiman setelah di “lecehakan” oleh gebetan saat middle school sungguh bromance sekali!
Drama yang paling menarik menurut saya adalah bagaimana Hachiman menyelesaikan sebuah masalah dengan mengorbankan dirinya hingga menimbulkan konflik lanjutan, dan bagaimana Hachiman serta orang sekitarnya membereskan konflik yang muncul tersebut, menurut saya menarik untuk diikuti.

Dialog terselubung



Oregairu penuh dengan dialog mulai dari yang penting hingga tidak penting, mungkin untuk penonton yang suka anime menghibur akan merasa bosan. Tetapi percayalah dialog itulah yang menjadi inti cerita dan mungkin kalian harus memperhatikan dari episode awal hingga akhir untuk memahami inti ceritanya. Masalahnya dialog ini tidak diucapkan secara harafiah dan tidak jarang kalian harus sedikit memutar otak untuk memahami maksudnya apa. Seperti contoh Haruno yang terlihat bersikap manis kepada Yukino dan Hachiman, tetapi kata manis itu bisa bermakna lain seiring berjalannya cerita dan menimbulkan spekulasi. Ya betul udah seperti berhubungan dengan wanita, penuh dengan kode dan teka-teki.

Cliffhanger ending


Dari semua poin mungkin kalian setuju dengan saya bahwa poin inilah yang paling mengesalkan dari season 2 ini dimana endingnya sendiri tidak layak disebut ending. Ibarat naik roller coaster, udah naik sampai atas terus tiba-tiba roller coaster-nya diam tanpa turun terjun ke bawah, itulah gambaran endingnya, kentang bro! Hal ini bukan tanpa sebab karena anime nya sendiri sudah balapan dengan novel nya. Jadi kalian antara harus menunggu novel jilid 12 nya rilis dengan bahasa dewa tentunya, atau menunggu season 3 yang gak jelas kapan, sama gak jelasnya dengan nembak cewe dan dapat jawaban “beri aku waktu berpikir ya”.
Tetapi endingnya sendiri mempunya poin plus menurut saya yaitu membuka banyak kemungkinan seperti apa maksud endingnya dengan berbagai macam spekulasi yang dapat beredar. Kenapa? karena seperti poin sebelumnya yang saya bilang, dialog terakhir antara Hachiman, Yui, dan Yukino tidak diucapkan secara harafiah apa maksudnya. Jadi  jangan bingung jika sebuah confession saja bisa memakan waktu 1/4 episode itu sendiri dengan kalimat muter-muter.
Published: By: Unknown - Sabtu, November 05, 2016

Rabu, 02 November 2016

Review Anime: Boku Dake ga Inai Machi

Boku Dake ga Inai Machi



Anime yang satu ini mungkin akan menekan banyak tombol yang salah bagi para pembaca manga-nya. Karena studio yang mengadaptasinya terkenal dengan reputasi senang memotong jalan cerita atau mengubah alurnya sesuai dengan keinginan mereka. They did do just that with this anime too. Studio tersebut kita kenal dengan nama A1 Pictures. It’s not like they’re doing it badly, it’s more like they mishandled it, on the end.

BokuMachi adalah sebuah manga drama misteri thriller buatan Kei Sanbe yang dibuat pada tahun 2012 lalu, manga tersebut mendapatkan banyak nominasi penghargaan manga terbaik termasuk Manga Taishou dan Kono Manga ga Sugoi!. Tidak heran bila manga ini kemudian mendapatkan sebuah adaptasi anime dan ditayangkan pada musim dingin tahun 2016. Melihat aspek animasi, cerita, dan thrillsaat menontonnya, saya tidak heran bila anime ini bisa menjadi salah satu kandidat untuk Anime of The Year.



Memiliki cerita yang bagus

It’s good, actually. Bahkan bila kamu sudah membaca manga-nya maka anime ini tetap akan terasa cukup baik. But it’s not good enough. Walaupun mereka banyak memotong ceritanya, tapi saya mengerti kalau memampatkan 40+ chapter panjang ke dalam 12 episode itu bukanlah hal yang mudah. Kebanyakan dari ‘penyesalan’ kamu kepada A1 Pictures hanya akan terasa di akhir-akhir adaptasi ini.

Penggunaan warna yang sedikit gelap dengan kontras yang kencang juga menjadi salah satu ciri khas dari anime ini. Kontras yang kuat menebalkan warna-warna sehingga anime ini terasa colorful, namun pada saat yang sama juga membuat anime ini terasa sedikit gelap karena detil yang menebal.

A1 Pictures Quality/A1 Pictures Style
Diadaptasi oleh A1 Pictures mungkin bisa dianggap sebuah kemujuran, tapi bisa juga dianggap sebuah kesialan. Diusung oleh studio kenamaan ini, saya yakin banyak orang yang ingin menonton karena kualitas mereka yang sudah teruji bagus. A1 Pictures mengeksekusi anime ini dengan cukup baik, masih mungkin bagi anime ini untuk mendapatkan gelar Anime of The Year, dan saya tidak meragukan mereka kalau memenangkannya.
Tapi bila ada batu sandungan di antara BokuMachi dan gelar Anime of The Year-nya, saya rasa batu itu adalah ending orisinalnya. Ya, orisinal. Ending yang sepertinya dipaksakan dan dipercepat banget itu tidak bisa menyamai seluruh build up dan suspense yang diperlihatkan anime ini di episode-episode sebelumnya. Mungkin ini juga efek samping membaca ending manga-nya. Yes, I am glad Satoru and Airi ship sails in the end, but what about the process?


Sebelum ini kami membicarakan mengenai adaptasi BokuMachi ini dan kami setuju kalau ending animeini dibuat dengan terlalu cepat. Seharusnya mereka bisa menggantungkan ending-nya dan memisahkan ending aslinya di sebuah OVA or even better, film layar lebar. Saya percaya, bila BokuMachi ditayangkan di bioskop -dengan ending yang baik-, pasti bakal laku.
Published: By: Unknown - Rabu, November 02, 2016

Senin, 31 Oktober 2016

Review Anime: Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu


Re:Zero merupakan adaptasi novel karya Nagatsuki Tappei yang selain menjadi anime, karya beliau diadaptasi juga menjadi manga. Berkisah tentang Subaru yang terlempar ke dunia lain dan mempunyai kemampuan khusus demi menyelamatkan seorang wanita.
Apakah Re:Zero benar-benar merupakan anime yang bagus atau hanya sekadar hype yang tinggi?

Another isekai but is actually more than that

Tema Re:Zero memang merupakan isekai, sebuah tema dimana sang MC terlempar ke dunia lain. Dalam kasus ini Subaru, seorang hikkikomori, terlempar ke dunia lain sehabis dari mini market. Dunia yang didatangi Subaru merupakan sebuah dunia fantasi yang memiliki berbagai ras, seperti tema isekai pada umumnya. Kemudian Subaru menemui dirinya dalam masalah yang akhirnya diselamatkan oleh seorang perempuan half elf, Emilia.
Subaru bersama Emilia kemudian bertualang bersama mencari sebuah benda milik Emilia yang hilang dicuri. Kemudian mereka kembali menemui masalah yang berakhir dengan kematian Subaru dan Emilia. Tetapi cerita tidak selesai, Subaru menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk reset ke checkpointtertentu setiap kali ia mati.
Sekilas memang seperti tema isekai pada umumnya, tetapi di sini Subaru tidak mempunyai keahlian yang hebat seperti Kirito atau kepintaran seperti Shiro. Subaru sama seperti Kazuma, tetapi keadaan Kazuma lebih beruntung karena terjebak di dunia lawak. Dunia yang Subaru datangi jauh lebih serius dan mempunyai berbagai macam konflik dan peristiwa, dan Subaru hanya memiliki kemampuan reset-nya untuk melewati berbagai macam peristiwa.
Masalahnya, peristiwa yang ada tidak semudah itu. Peristiwa tersebut terkadang melibatkan sesuatu yang tidak mungkin Subaru hadapi sendirian karena ketidakmampuannya dalam bertarung atau bahkan melibatkan bala tentara dan seorang musuh besar yang kejam.
Di sinilah menariknya Re:Zero. Para penonton selalu dibuat penasaran bagaimana Subaru melewati berbagai macam peristiwa yang mungkin para penonton rasakan bahwa peristiwa tersebut terlalu berat untuk Subaru hadapi seorang diri.

Character development!

Saya bisa bilang perkembangan karakter pada seri ini dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun tidak semua mendapatkannya, tetapi beberapa karakter kunci mempunyai perkembangan yang sangat bagus. Pertama tentu saja best girl seri ini: Rem. Pada awalnya Rem mempunyai sifat yang sangat dingin dan tidak segan-segan melakukan apapun demi majikannya. Setelah diusut, ternyata masa lalu Rem lah yang membuatnya menjadi seperti itu. Pertemuan dengan Subaru dan peristiwa yang dialaminya membuat sifat Rem menjadi lebih lunak dan jatuh cinta dengan Subaru (mending sama saya, mbak).
Selain Rem, satu lagi karakter yang mempunyai perkembangan yang sangat baik adalah main hero seri ini, Subaru. Sebenarnya saya agak tidak ikhlas, tetapi saya harus mengakui bahwa perkembangan Subaru sangat terasa di sini. Kita akan menyaksikan perkembangan karakter Subaru dari yang mudah putus asa dan menyedihkan hingga menjadi Subaru yang tegar. Pada arc terakhir seri ini, Subaru berada pada posisi paling menyedihkan karena harus bersujud kepada Crusch, direndahkan oleh Priscilla, hingga ditipu oleh Anastasia. Bagaimana tidak, Subaru menghadapi masa yang sangat sulit karena harus menghadapi kematian Rem yang sangat sadis dan Emillia berulang kali. Setelah menghadapi loopberulang kali, pada akhirnya Subaru berhasil membuat negosiasi antara Crusch dan Anastasia untuk melancarkan serangan ke witch cult untuk mencegah kematian Emillia, bahkan hingga memimpin pasukan tersebut setelah mengalahkan paus putih.

Still have a lot of mysteries and holes


Meskipun menghadirkan cerita yang baik, sayangnya Re:Zero masih menyisakan misteri yang cukup banyak. Penjelasan mengenai dunia yang didatangi Subaru nyaris tidak ada. Para penonton hanya dihadirkan petunjuk-petunjuk untuk menggambarkan dunia tersebut. Padahal menurut saya hal ini krusial untuk sebuah anime dengan tema isekai.
Selain itu masih banyak misteri seperti hubungan sesungguhnya antara Emilia dan Puck, apa itu witch cult, mengapa hanya Subaru yang memiliki kekuatan untuk loop, apakah ada orang lain selain Subaru, apakah benar Felix seorang pria, dan masih banyak misteri lainnya. Biarpun begitu saya masih memaklumi karena Re:Zero sendiri masih lanjut di light novel-nya yang semoga saja dijelaskan ke depannya. Selain itu hal ini menimbulkan banyak spekulasi dan perdebatan di dunia maya yang tentu saja menarik untuk diikuti.


Terima kasih sudah membaca review dari saya, maaf jika memang ada yang salah atau kurang detail. Ngomong ngomong nih tim manakah kalian? Rem atau Emilia-tan?
Published: By: Unknown - Senin, Oktober 31, 2016

Review Anime: Kimi no Na wa

Kimi no Na wa




Banyak sekali artikel media sosial memberitakan Kimi no Na wa mengenai lakunya anime ini di kalangan orang orang dan pastinya kalian pasti penasaran dengan film terbaru buatan Makoto Shinkai ini.

Kisah yang khas milik Makoto Shinkai

Siapa sih yang tidak kenal Makoto Shinkai? sebelumnya dia juga pernah tenar karena pembuatan film berjudul 5 Centimeters Per Second, Kotohana no Niwa. Di dalam Kimi no Na Wa ini Makoto Shinkai menceritakan sebuah kehidupan seorang laki-laki yang bernama Taki yang tinggal di Kota dan seorang perempuan yang bernama Mitsuha yang tinggal di desa. Ketika mereka berdua tidur, seketika tubuh mereka bertukar satu dengan lainnya sehingga itu membuat hidup mereka kacau dan karena itu mereka berdua berjanji untuk mencatat seluruh kegiatan demi menjaga tubuh mereka masing-masing.
Mungkin di awal melihat anime ini para penonton heran dan binggung dengan ceritanya, awal cerita yang saling berinteraksi saling berjauhan dan semakin lama hubungan mereka semakin dekat dan itu membuat para penonton merasakan hubungan mereka terbangun. 




Kualitas Art yang Begitu Sempurna

Sudah tidak perlu di ragukan lagi, anime buatan Makoto Shinkai selalu berupa eye-candy. Tentu menghadirkan animasi yang cukup detail dan benar-benar cocok dengan tema di dalamnya seperti ketika adegan Mitsuha di desanya, di anime ini mereka benar-benar menunjukkan detail di setiap sudutnya maupun juga ketika Taki dan cerita hidupnya di Tokyo dan yang tak kalah lagi adalah di bagian Musik di dalam anime ini, Makoto Shinkai benar-benar cocok untuk menempatkan musik di bagian scene tertentu, tentu itu akan membawa suasana ngefeel bagi para penontonnya salah satunya adalah lagu Zen Zen Zense yang di ciptakan oleh RADWIMPS dan saya tak bosan-bosan mendengar lagu itu.

YAP, Begitulan review anime Kimi no Na wa dari saya, maaf jika memang review saya kurang detail dan mungkin ada yang salah, saya sendiri memang tidak terlalu ingin menceritakan untuk lebih detail karena saya tidak ingin melakukan spoiler kepada para pembaca di sini. Saya ingin para pembaca untuk menonton anime yang berdurasi 2 jam ini agar para pembaca bisa merasakan Art dan cerita yang begitu kental.





Published: By: Unknown - Senin, Oktober 31, 2016

Minggu, 30 Oktober 2016

Review Anime: Koe No Katachi


Koe No Katachi



Ternyata selama saya di Jepang kemarin, Kyoto Animation mulai menayangkan film anime “Koe no Katachi“. Tentunya saya menggunakan kesempatan ini untuk menontonnya langsung di bioskop.
Hampir bernasib sama dengan Kimi no Na wa, saya dan teman-teman saya cukup kesulitan untuk mendapatkan kursi karena banyak waktu tayang yang sudah penuh. Tetapi kali ini sedikit lebih mudah karena jumlah rombongan lebih sedikit dan masih ada beberapa kursi kosong meski posisinya kurang bagus.

Adaptasi Cerita yang Lebih Padat
Ketika Kyoto Animation mengumumkan adaptasi Koe no Katachi sebagai film anime, saya sedikit cukup kaget. Memang manga-nya sendiri tidak terlalu panjang jumlah volumenya, hanya 7 volume, tetapi apakah cukup untuk dijadikan 1 film saja? Ternyata Kyoto Animation tidak tanggung-tanggung mengerjakan adaptasinya. Mereka mengadaptasi manga tersebut menjadi film yang berdurasi 130 menit, atau setara dengan 2 jam 10 menit.

Koe no Katachi menceritakan tentang Shoya Ishida, seorang remaja yang waktu SD sering melakukan bully kepada murid pindahan bernama Shoko Nishimaya yang ternyata tuna rungu. Karena suatu kejadian, Shoya ketahuan dan kemudian teman-teman sekelasnya pun mulai melakukan hal yang sama kepadanya, yaitu bullying. Setelah kejadian ini, waktunya dipercepat ke masa SMA dan Shoya mulai menutup hatinya dan selalu merasa bersalah. Tetapi suatu hari, Shoya kembali bertemu dengan Shoko. Pertemuan ini pun membuat diri Shoya mulai berubah.
Untuk versi film ini, Kyoto Animation melakukan banyak perubahan agar ceritanya bisa selesai dalam 1 film. Mungkin beberapa di antara kalian ada yang kecewa karena perubahan ini, tetapi saya merasa ini adalah hal baik karena ceritanya menjadi lebih padat dan tidak terasa bertele-tele.

Desain yang Setia dengan Karya Aslinya

Beberapa serial anime yang dikerjakan oleh Kyoto Animation akhir-akhir ini memiliki desain karakter yang serupa meski berasal dari berbagai seri yang berbeda, coba saja liat K-ON!, Tamako Market, dan lainnya. Untungnya untuk di Koe no Katachi, Kyoto Animation masih setia dengan desain karakter yang masih serupa dengan seri manga-nya. Tidak hanya dari desain saja, cara penggunaan warnanya pun serupa dengan karya aslinya.

Tetapi yang saya sedikit bingung adalah ketika saya menonton film ini, saya merasa animasinya terasa biasa saja. Padahal biasanya film anime menghadirkan animasi yang jauh lebih baik. Tidak hanya itu, Kyoto Animation juga biasanya menghadirkan animasi yang luar biasa untuk serial TV mereka. Makanya saya sedikit merasa janggal. Meski begitu, hal ini seharusnya tidak menganggu pengalaman menonton kalian.

Peforma Seiyuu yang Mengagumkan


Untuk Koe no Katachi, Kyoto Animation memilih berbagai seiyuu yang sudah ternama seperti Miyu Irino sebagai Shoya Ishida, Saori Hayami sebagai Shoko Nishimiya, Aoi Yuuki sebagai Yuzuru Nishimiya dan lainnya. Jadi performa masing-masing seiyuu-nya tidak perlu diragukan lagi. Tetapi bagi saya, performa Saori Hayami dalam film ini benar-benar bersinar. Karena Shoko adalah tuna rungu, tentunya Shoko tidak bisa berbicara dengan lancar karena tidak pernah mendengar kata-katanya. Di sini, Hayami berhasil memerankan Shoko dengan sempurna.

Berikut adalah trailer Koe No Katachi.







Published: By: Unknown - Minggu, Oktober 30, 2016